HomeOutlookEducation & IssuesKeris: Falsafah Hidup Masyarakat Jawa
Photo of Bromo Jawa TimurJawa TimurMalang

Keris: Falsafah Hidup Masyarakat Jawa

Background Image
Pameran Keris (Sumber: yollaframe.id)

Bukan hanya sekadar senjata. Keris merupakan bagian dari falsafah hidup masyarakat Jawa. Karena masyarakat Jawa selalu menjujung adat istiadat dan norma budaya.

MTCMEDIA-Malang. Menurut sejarah, munculnya keris di Indonesia masih belum diketahui secara pasti. Beberapa sumber menyebutkan bahwa, keris muncul di akhir era Majapahit berdasarkan penuturan Denys Lombard, seorang sejarawan. Selain itu, menurut pakar Sastra Jawa dan Kebudayaan Indonesia, yaitu Zoetmulder menyebutkan keris diduga muncul di Jawa pada abad ke-6 atau ke-7. Catatan lain, keris dan proses pembuatannya dapat dilihat dalam relief Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Prambanan, dan Candi Sukuh. Dari banyaknya rekam jejak yang telah dikumpulkan, dapat dilihat bahwa keris di Nusantara, khususnya di Jawa memiliki nilai yang lebih. Bukan hanya sekadar senjata tetapi terdapat unsur filosofis yang mendalam.

Terbukti dari pengakuan yang diberikan UNESCO keris menjadi Warisan Kecerdikan Budi Dunia Non-Bendawi Manusia sejak 2005. Secara bentuk, keris sangat mudah dibedakan dengan jenis senjata lainnya. Memiliki struktur yang unik, berupa ujung yang lancip, bentuk bilah yang berkelok-kelok, menjadi ciri menonjol dari keris. Secara umum, keris memiliki tiga bagian bilah (pisau), hulu (gagang), dan warangka (sarung). Secara mekanisme dan fungsi di masyarakat Jawa, keris dibagi menjadi dua. Pertama, keris sepuh merujuk pada keris yang dibuat pada masa kerajaan, seperti Jenggala, Singasari, Majapahit, hinga Mataram. Kedua, keris kamardikan merupakan keris yang dibuat setelah masa kemerdekaan Indonesia.

Secara pembuatan, keris dibagi menjadi tiga golongan, yaitu keris ageman yang mementingkan keindahan bentuk. Golongan kedua adalam keris tayuhan, yang mementingkan tuah atau kekuatan gaib. Golongan ketiga adalah pusaka, yaitu golongan keris yang mementingkan aspek estetik dan kekuatan supranatural. Lebih mendalam, keris diyakini oleh beberapa suku di Indonesia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari hingga saat ini.

Khususnya di Jawa, penduduk Jawa memiliki filosofi terhadap keris sebagai bentuk penghambaan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keris adalah simbol bersatunya seseorang hamba kepada Tuhan. “Curiga manjing warongko jumbuhing kawula lan gusti” berarti “bersatunya bilah keris dan warangkanya merupakan simbol bersatunya manusia dengan Tuhannya”. Simbol-silbol lain yang muncul pada keris, yaitu keris diwujudkan sebagai senjata, simbol kekuatan dan kebijaksanaan. Perwujudan identitas diri, keris menjadi simbol karakter jati diri pemiliknya, mencerminkan nilai luruh yang dijunjung tinggi. Simbol kepercayaan dan penghormatan, pada masa kerajaan, pemberian keris kepada seseorang merupakan simbol dari kepercayaan dan kehormatan dari raja kepada bangsawan. Bentuk dan pamor keris, bentuk yang berkelok (luk) dan pamor (motif pada bilah) memiliki unsur personifikasi yang disesuaikan dengan pemiliknya.

Keris selalu memiliki kedudukan yang istimewa dikalangan masyarakat Jawa. Kini keris dipergunakan sebagai bentuk warisan budaya yang terus dilestarikan. Pertama, sebagai hiasan pelengkap pakaian adat. Dalam pakaian adat Jawa keris disematkan dibagian belakang sebagai penambah kesan sakral. Kedua, keris dipergunakan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, pelantikan dan ritual lainnya. Ketiga, terdapat komunitas pencinta seni yang berusaha untuk terus merawat dan menyimpan keris-keris yang ditemukan di masa lampau atau keris yang sudah dibuat setelah era kemerdekaan. Selain itu, usaha ini terus dilakukan agar budaya Jawa tetap lestari dan menjadi bentuk penghormatan terhadap benda pusaka. Mengingat beberapa tokoh nasional, seperti Pangeran Diponegoro diketahui memiliki keris yang digunakan sebagai senjata saat melawan penjajah Belanda.

Author

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like